Menjelang
dua puluh lima tahun usaha kita dalam pembangunan nasional khususnya
dalam pendidikan telah membuahkan banyak hasil yang membesarkan hati
walaupun banyak masalah-masalah yang muncul akibat keberhasilan yang
dicapai itu. (Tilaar:1991:6).
Keberhasilan suatu bangsa tidak
akan terlepas dari kemajuan pendidikannya. Sebagai manusia dizaman
modern ini, sangat dibutuhkan suatu antisipasi menghadapi era
globalisasi yang menjadi ‘momok’ bagi generasi penerus yang kita
harapkan.
Pada era yang penuh tantangan ini,
dunia akan ditandai dengan beberapa perubahan penting dalam berbagai
bidang kehidupan. Dari beberapa survei dan analisis, diketahui bahwa
masyarakat telah mengalami era perubahan, perubahan masyarakat pertanian
ke masyarat industri. Pasca industri, mereka beralih kepada masyarakat
informasi. Industri-industri manufaktur telah banyak menggantikan
kegiatan industri tradisional. Perkembangan teknologi mengakibatkan
perubahan pula dalam struktur lapisan sosial sebagai akibat perkembangan
berbagai bidang profesi yang merupakan salah satu ciri dari masyarakat
modern.
Negara Indonesia merupakan negara
berkembang. Dibandingkan dengan negara-negara berkembang, pendidikan di
negara-negara maju yang notabene negara industri memiliki ciri-ciri yang
lebih baik, khususnya penduduk yang buta huruf lebih sedikit, angka
partisipasi pendidikan tinggi, anggaran pendidikan lebih tinggi, dan
adanya kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih merata dan keadilan
untuk setiap warga negara. Tilaar (1991) mengemukakan bahwa tingkat
partisipasi pendidikan menengah dan pendidikan tinggi di negara-negara
maju pada saat ini sudah mencapai 30 %. Sedangkan di negara-negara
berkembang seperti Indonesia umumnya angka partisipasinya hanya mencapai
angka 15%. Pada masa sebelum tinggal landas, rata-rata tingkat
penduduknya yang buta huruf lebih rendah dibanding dengan negara-negara
berkembang. Beberapa negara industri menghadapi kesenjangan dalam
pendapatan dan pelayanan masyarakat. Tetapi sebaliknya di negara-negara
non industri yang pada umumnya negara-negara berkembang, masalah-masalah
pendidikan seperti kualitas, relevansi, belum meratanya layanan
pendidikan, dan kecilnya anggaran yang bersifat internal terjadi. Oleh
karena itu, penting bagi suatu negara bersiap menghadapi arus
modernisasi dan globalisasi pada abad ke 21 ini. Sudah saatnya untuk
memantapkan integritas budaya dan kepribadian bangsa sejak awal melalui
pendidikan.
Peran Mahasiswa
Menurut Knoptemachur, mahasiswa merupakan
insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan
tinggi diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Mereka diharapkan
memiliki kepekaan tinggi terhadap lingkungan dan memiliki pemikiran
kritis yang didambakan masyarakat. Mereka juga merupakan motor penggerak
kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Tongkat
estafet suatu peradaban terletak di pundak kita sebagai mahasiswa. Baik
buruknya nasib masyarakat kelak, bergantung pada kondisi pemuda dan
mahasiswa sekarang ini.
Di mata masyarakat pada umumnya,
mahasiswa adalah agen perubahan sosial karena mahasiswa selaku insan
akademis, dipandang memiliki kekuatan intelektual yang lebih sehingga
kepekaan dan nalar yang logis diharapkan memberikan kontribusi nyata
terhadap pembangunan pendidikan dan sosial masyarakat. Sudah menjadi
konsekuensi seorang mahasiswa untuk mampu mengoptimalkan potensi yang
dimilikinya sebagai suatu kebutuhan pribadi dan masyarakat. Fungsi
kontrol sosial yang dimiliki mahasiswa sangat berguna bagi pembangunan
demi kemajuan bangsa.
Mahasiswa yang sudah mapan
berpikir adalah mahasiswa yang tidak sekedar mementingkan akademik
semata, namun jauh tersirat dalam benaknya tentang arti dari kualitas
hidupnya sebagai pribadi yang rela mengabdi untuk masyarakat. Sebagai
pribadi yang mampu melihat permasalahan disekitarnya dan menjadi bagian
dari penyelesaiannya. Sehingga ia mampu menggerakkan dan mengerahkan
potensi yang dimilikinya dan menjadi bagian penentu arah dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.

No comments:
Post a Comment