Monday, 24 November 2014

Belajar, Tidak Mengenal Usia

totalitas


     Sebagai seorang manusia, sudah menjadi kebutuhan kita untuk selalu belajar. Para pendahulu mengajarkan kita untuk belajar sepanjang waktu. Belajar itu tak mengenal usia. Belajar itu memahami, bukan hanya menghafal yang bisa terlupakan kapanpun. Manusia perlu untuk selalu belajar agar dapat naik ke tahapan selanjutnya.

      Belajar memang tidak mudah, karena itu penting. Berbagai rintangan juga akan siap untuk kita taklukan. Seseorang yang belajar untuk mengajak kepada kebaikan, ia akan mengalami penolakan, tidak semuanya akan menyambut riang gembira kebaikan yang diajakkan. Rasa gagal akan menghantui diri. Kecewa juga sering menyambangi diri. Diri kecewa karena sikap acuh tak acuh mereka, bisa saja beranjak menjadi orang yang apatis dan tidak mau mengajak kepada kebaikan.

       Yuk, coba kembali membuka kisah tentang Penduduk Pesisir Pantai dan Laut. Sabtu adalah hari kemuliaan mereka, dimana mereka tidak boleh bekerja demi dunia dan mereka harus beribadah kepada Tuhannya. Sedangkan pada hari sabtu, ikan-ikan laut begitu mudah untuk ditangkap. Suatu ketika, sebagian penduduk sudah tidak tahan lagi, mereka meninggalkan larangan hari sabath dan pergi menjaring ikan, sebagian mengingatkan, sebagian lagi mengabaikan.  datanglah sebuah peringatan dari Allah, ia membinasakan penduduk yang melanggar dan yang tidak mengingatkan saudaranya.

       Kembali lagi ke akibat ditolak, bisa saja diri merasa gagal, tidak mampu untuk mengajak orang sekitar pada kebaikan, merasa putus asa bagaimana nasib generasi selanjutnya jika para pendahulu saja enggan untuk memulai perbaikan. Bersikap tenang dan optimis adalah hal yang harus dilakukan, harus tetap percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja karena selalu ada Allah disisi.

        Namanya juga belajar, ada yang namanya kegagalan. Manisnya perjuangan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang benar-benar sudah merasakan jatuh, terseok, bangkit, jatuh, bangkit, jatuh, dan bangkittttttttttt teruuuuuuuuusss.. Tetap semangat belajar, melakukan perbaikan.. J (SN)

Pendidikan sebagai Cerminan Bangsa

belajar1


Menjelang dua puluh lima tahun usaha kita dalam pembangunan nasional khususnya dalam pendidikan telah membuahkan banyak hasil yang membesarkan hati walaupun banyak masalah-masalah yang muncul akibat keberhasilan yang dicapai itu. (Tilaar:1991:6).

       Keberhasilan suatu bangsa tidak akan terlepas dari kemajuan pendidikannya. Sebagai manusia dizaman modern ini, sangat dibutuhkan suatu antisipasi menghadapi era globalisasi yang menjadi ‘momok’ bagi generasi penerus yang kita harapkan.

       Pada era yang penuh tantangan ini, dunia akan ditandai dengan beberapa perubahan penting dalam berbagai bidang kehidupan. Dari beberapa survei dan analisis, diketahui bahwa masyarakat telah mengalami era perubahan, perubahan masyarakat pertanian ke masyarat industri. Pasca industri, mereka beralih kepada masyarakat informasi. Industri-industri manufaktur telah banyak menggantikan kegiatan industri tradisional. Perkembangan teknologi mengakibatkan perubahan pula dalam struktur lapisan sosial sebagai akibat perkembangan berbagai bidang profesi yang merupakan salah satu ciri dari masyarakat modern.

       Negara Indonesia merupakan negara berkembang. Dibandingkan dengan negara-negara berkembang, pendidikan di negara-negara maju yang notabene negara industri memiliki ciri-ciri yang lebih baik, khususnya penduduk yang buta huruf lebih sedikit, angka partisipasi pendidikan tinggi, anggaran pendidikan lebih tinggi, dan adanya kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih merata dan keadilan untuk setiap warga negara. Tilaar (1991) mengemukakan bahwa tingkat partisipasi pendidikan menengah dan pendidikan tinggi di negara-negara maju pada saat ini sudah mencapai 30 %. Sedangkan di negara-negara berkembang seperti Indonesia umumnya angka partisipasinya hanya mencapai angka 15%. Pada masa sebelum tinggal landas, rata-rata tingkat penduduknya yang buta huruf lebih rendah dibanding dengan negara-negara berkembang. Beberapa negara industri menghadapi kesenjangan dalam pendapatan dan pelayanan masyarakat. Tetapi sebaliknya di negara-negara non industri yang pada umumnya negara-negara berkembang, masalah-masalah pendidikan seperti kualitas, relevansi, belum meratanya layanan pendidikan, dan kecilnya anggaran yang bersifat internal terjadi. Oleh karena itu, penting bagi suatu negara bersiap menghadapi arus modernisasi dan globalisasi pada abad ke 21 ini. Sudah saatnya untuk memantapkan integritas budaya dan kepribadian bangsa sejak awal melalui pendidikan.

Peran Mahasiswa

Menurut Knoptemachur, mahasiswa merupakan insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Mereka diharapkan memiliki kepekaan tinggi terhadap lingkungan dan memiliki pemikiran kritis yang didambakan masyarakat. Mereka juga merupakan motor penggerak kemajuan ketika masyarakat melakukan proses pembangunan. Tongkat estafet suatu peradaban terletak di pundak kita sebagai mahasiswa. Baik buruknya nasib masyarakat kelak, bergantung pada kondisi pemuda dan mahasiswa sekarang ini.

       Di mata masyarakat pada umumnya, mahasiswa adalah agen perubahan sosial karena mahasiswa selaku insan akademis, dipandang memiliki kekuatan intelektual yang lebih sehingga kepekaan dan nalar yang logis diharapkan memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan pendidikan dan sosial masyarakat. Sudah menjadi konsekuensi seorang mahasiswa untuk mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sebagai suatu kebutuhan pribadi dan masyarakat. Fungsi kontrol sosial yang dimiliki mahasiswa sangat berguna bagi pembangunan demi kemajuan bangsa.

       Mahasiswa yang sudah mapan berpikir adalah mahasiswa yang tidak sekedar mementingkan akademik semata, namun jauh tersirat dalam benaknya tentang arti dari kualitas hidupnya sebagai pribadi yang rela mengabdi untuk masyarakat. Sebagai pribadi yang mampu melihat permasalahan disekitarnya dan menjadi bagian dari penyelesaiannya. Sehingga ia mampu menggerakkan dan mengerahkan potensi yang dimilikinya dan menjadi bagian penentu arah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Man Jadda Wajada


Man_Jadda_WaJada


      Man Jadda Wajada merupakan sepenggal mantra sakti yang memiliki makna mendalam dan mampu memberikan semangat luar biasa pada ruh gersang akan perjuangan. “Siapa yang bersunguh-sungguh, maka akan berhasil,” begitulah arti ungkapan dalam bahasa Arab ini. Man jadda wajada memang bukan hadits tapi selaras dengan sunnatullah. Ketetapan yang mengatakan bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sutau kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka,” (Q.S. Ar-Ra’d:11)

        Saat ini, dinegeri kita berpijak, Indonesia mengalami keterpurukan dalam berbagai bidang, baik ekonomi, pendidikan, moral, dan sebagainya. Akan tetapi, kita patut bangga karena kita banyak menoreh prestasi baik ditingkat Asia Tenggara maupun Internasional. Sekilas, kita sebagai warga negara Indonesia merasa ‘hidup dengan aman, damai, dan ramah’. Negara ini sangat aman bagi para penjahat kelas teri bahkan kelas kakap, koruptor, pembunuh, pengedar narkoba, misal. Negara ini sangat damai bagi orang yang memiliki uang. Asal punya uang, semua bisa damai. Asal punya uang, pelanggaran lalu lintas bisa menjadi permainan uang. Asal punya uang, kita bisa membeli orang. Negara ini sangat ramah bagi orang-orang yang punya jabatan dan kedudukan. Lalu, bagaimana masyarakat Indonesia yang menginginkan kedamaian akan hidup dengan aman jika negara ini “mengamankan” para penjahat? Lalu bagaimana kedamaian akan menyelimuti orang-orang yang tak memiliki uang untuk mendamaikan kehidupannya? Lalu, apakah keramahan yang diberikan pada tamu mancanegara akan diberikan juga pada tuan rumah? Jawabannya pasti anda sudah tahu. Itulah kondisi negara kita tercinta saat ini, kita patutnya meyakini bahwa di bumi pertiwi ini kitalah calon negarawan-negarawan yang ditunggu untuk menjadikan Indonesia kembali aman, damai, dan ramah dalam arti yang sebenar-benarnya. Kita? Ya, kita.

Siapa kita...?

Kitalah pemuda-pemudi Indonesia. Seorang yang semangat juangnya menggebu-gebu, berani memberontak pada kelaliman penguasa atau sistem yang semena-mena. Kitalah pemuda yang tak mudah patah arang meski tak memiliki pedang, bermodalkan tekad dan semangat.

Pemuda dijalan perjuangan yang memiliki idealisme kuat, semangat dan ide-ide mantap. Seringkali kita bertanya, apa yang bisa kita berikan untuk negeri kita tercinta ini?

Padahal jika kita mau, ada banyak hal yang mampu kita usahakan. Ya, seringkali kemampuan kita hanya berbatas pada kemauan, Jika saja kita optimis. Sekarang itu saatnya kita belajar dengan giat. Setelah kita berhasil menduduki tempat strategis, baru kita mempengaruhi kebijakan agar mengarah ke penyelesaian-penyelesaian atas berbagai masalah yang terjadi. Namun, jangan pernah lupa bahwa kita juga harus mempunyai arus yang kuat, mustahil bagi kita sendiri bertindak melawan arus, berharap arus akan berubah begitu saja.

Begitu banyak tugas yang harus kita selesaikan, tentu bukan perkara mudah. Akan tetapi mari kita lihat dari sudut pandang luas dan positif agar dapat memberikan jawaban. Membantu sedikit itu masih namanya membantu daripada tidak. Melakukan sedikit itu masih ada hasilnya daripada tidak. Darimana datangnya banyak kalau bukan dari sedikit? Darimana datangnya kesadaran kalau tidak ada yang memberi contoh? Karena itu saya ingin menjadi salah satu pelopor dan melakukannya untuk mengurangi permasalahan bangsa ini melalui:

a. Jembatan Informasi

Bersama organisasi mahasiswa, mahasiswa bisa mengadakan penyuluhan, menulis di koran, majalah atau media online, menjadi guru bimbingan belajar bagi mereka yang kurang mampu, demonstrasi, seminar rakyat, workshop, diskusi publik, dan lain-lain.

b. Bakti Sosial

Kita bisa mengurangi kekurangan pangan dengan berbagi nasi, mengumpulkan dana bantuan bencana alam, sukarelawan, mengumpulkan baju layak pakai, membantu pembangunan sarana dan prasarana desa, membentuk posko-posko konsultasi, dan lain-lain.

c. Lingkungan

Mengadakan acara menanam pohon, kerja bakti, menjadi pelopor kebersihan, anti pencemaran, dan lain-lain.

Mahasiswa sebagai rakyat yang berada di antara masyarakat juga bisa menjadi pengumpul dan penyalur aspirasi masyarakat melalui kegiatan kemahasiswaan. Dalam bidang keilmuan, mahasiswa dapat melakukan kajian dan penelitian, menemukan dan menginovasikan gagasan. Setiap mahasiswa yang fokus terhadap bidangnya, tetap bisa berkontribusi sebagai solusi dari kemunduran yang terjadi di negeri ini.

Pada akhirnya sebuah solusi tanpa tindakan hanya berbuntut kegagalan. Perlunya kesungguhan itu dibarengi dengan kerja keras dari semua entitas. Jangan hanya berkacak pinggang untuk menyalahi kebijakan umum, marilah bersama membangun Indonesia dengan sebenarnya cinta dan kesungguhan. Cinta tanah air dan perjuagan. Mari berkaca pada cermin, apa-apa yang ternyata belum dapat kita sumbangsihkan dan mulailah untuk menjaga kebermanfaatn diri untuk orang-orang sekitar.

 “Bukan kurangnya kemampuan yang melemahkan kehidupan, tetapi tidak cukupnya kesungguhan untuk menggunakan kemampuan yang ada.”

Sunday, 23 November 2014

You Are The Apple of My Eye


Gue baru nonton film ini. Judulnya You're The Apple of My Eye. Yah, judul Mandarinnya sih beda sama judul Inggrisnya sih. Kalau dari Mandarin diterjemahin, artinya mungkin kira-kira seperti ini : A Girl That We Chased Together All Those Years (Seorang gadis yang kita kejar bersama pada tahun itu)  #mencoba menterjemahkan dengan Mandarin yang pas-pasan =.=

Film ini berasal dari novel dengan judul sama dan ternyata based on true story. Ceritanya bagus, lucu, sweet, dan mengharukan. Gue jarang suka film model begini, gue lebih suka yang banyak action dan teknologinya, tapi film ini sukses bikin gue puas dan tersenyum di akhir.

Karena film ini bagus, jadi gatel mau taruh di blog. Ya, sudahlah.  Let's check it out...

Oke, dimulai...

Ko Ching Teng si tokoh utama adalah cowok nakal dan pembuat onar di sekolahnya. Dia itu tipe yang malas belajar dan iseng banget. Gue suka sama tingkahnya yang aneh-aneh. Gue juga suka teman-temannya yang gokil dan gila semua.



Ada satu kali Ko Ching Teng ini dihukum guru dan akhirnya disuruh duduk di depan seorang murid teladan bernama Shen Jia Yi.


Nah, Shen Jia Yi ini cewek biasa yang alim banget. Seluruh anggota geng gila Ko Ching Teng suka sama cewek ini, sementara Ko Ching Teng sendiri agak sebel sama ini cewek. Gimana nggak? Cewek ini negur dia melulu kalau bikin masalah.


Tapi ada satu kali si Ko Ching Teng rela dihukum guru dengan meminjamkan buku pelajarannya pada Shen Jia Yi yang kebetulan hari itu nggak bawa buku. Dari situ, Shen Jia Yi mulai perhatian sama cowok itu. Ko Ching Teng dipaksa belajar dan diajarin sama dia supaya bisa dapat nilai bagus di sekolahnya. Dan seperti biasa, si cowok jatuh cinta dengan si cewek. *wink


Lalu cerita bergulir seperti kehidupan nyata. Lulus sekolah, kuliah, dan kerja. "Bahwa apapun yang dipelajari di sekolah tidak menjamin kesuksesan di masa mendatang."


Yang bikin film ini menarik adalah keunikan masing-masing tokohnya. Gue suka banget sama teman-teman Ko Ching Teng. Gue harus akui persahabatan di antara mereka bikin saya iri. Keren banget. Ah, susah dijelaskan pokoknya. Keisengan dan kenakalan mereka bikin gue bernostalgia akan masa high school dulu. Hidup si tokoh utama ini benar-benar colorful banget. Dan perjalanan hidupnya sangat menarik sehingga tidak heran akhirnya dibikin novel.


Pengen banget sih baca bukunya. Tapi... sayangnya dalam bahasa Mandarin. Coba kalau ada yang mau terjemahin.


Oh, ya. Gue nggak nemu trailer berteks Inggris yang bagus dari film ini. Yang ada trailer dengan teks Mandarin. Hayah... Sayang gue nggak bisa edit video, gaptek sih.. :D


 "Shen Jia Yi, I like you, really like you... I hope someday I can get you."

"My name is Ko Ching Teng. That year, I was sixteen years old. Although Shen Jia Yi and I were in the same class for three years, but the distance between good student and bad student could not be changed."

"If you don't bring the book, please stand up!"

"Thank you."

"No problem. I have no shame." 

"Why don't you like to study?"

"Because I don't want to beat the first-ranked student, so I deliberately let you win."

"I don't like boys who are more stupid than me."

"Starting from that time, studying is not a hard thing to do for me."

"I like you. You must have known that."

"I thought I was a person who has no shame. But... I just found out that in front of the girl that I like, I am just a coward."

"I want to be a great person. So that I can make the world have a little change."

"Ko Ching Teng, you joined the fight and hurt yourself. Why are you so childish?"

"Stupid!"

"Yes, I am stupid. I don't even understand anything."

"I keep thinking that every problems in the world always have answers. Actually, in life there are several things that have no answer." 

Kira-kira arti yang gue tangkap sih begitu (kayaknya ada yang harus dikoreksi). Gue pasti mau nonton lagi kalau ada kesempatan... :)

Dreamer tried to paint something and failed, no sense of art at all, zzz...

:)